UNSUR-UNSUR DAN POLA KALIMAT

Senin, 12 Oktober 2015



a.       Pengertian kalimat
Kalimat adalah suatu bahasa kecil yang merupakan kesatuan pikiran. Dalam bahasa tulis, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru dan tanda tanya. Kalimat disusun dari beberapa unsur yaitu : frasa, kata ataupun klausa.

b.      Unsur-unsur kalimat
Ada beberapa unsur pembangun kalimat yang diantaranya adalah : Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel), dan Keterangan (K). Unsur-unsur ini memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing didalam kalimat dan untuk membentuk sebuah kalimat, minimal harus memiliki unsur Subjek (S) dan Predikat (P) didalamnya. Pada artikel ini marilah kita membahas satu persatu unsur-unsur pembentuk kalimat.
·         Subjek (S)
Unsur yang pertama adalah subjek yang berfungsisebagai penunjuk pelaku yang melakukan atau trlibat didalam kaliat tersebut. Biasanya subjek didalam kalimat berupa sebuah objek atau benda, contohmya : barang, manusia, barang, binatang tumbuhan maupun kata benda abstrak seperti gas, asap, air dan lain-lain.
Contoh : Nina, aku, saya, mereka, keledai, cita – cita, dan lain – lain.

·         Predikat (P)
Predikat adalah unsur terpenting didalam sebuah kalimat. Tanpa adanya kedua unsur ini, maka bisa dipastikan kata-kata tersebut bukanlah sebuah kalimat, melainkan frasa. Perdikat berfungsi untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh subjek didalam kalimat, dan biasanya berupa kata-kata kertja baik transitif maupun intransitif.
Contoh : Memakan, lari, menangis, bernyanyi, dan lain – lain.

·         Objek (O)
Objek berfungsi untuk menyatakan korban atau pihak yang diknai tindakan oleh subjek melalui predikat. Objek juga bisa melakukan tindakan terhadap kata-kata benda, baik benda konkret maupun abstrak.
Contoh : uang, tanaman, gagasan, Ani dan lain-lain.

·         Keterangan (K)
Unsur ini berfungsi sebagai penambah keterangan pada sebuah kalimat. Unsur keterangan biasanya diletakkan di depan maupun di belakang kalimat. Ada beberapa jenis unsur keterangan diantaranya adalah :
1.      Keterangan waktu
Kemarin, besok, bulan lalu, dua hari yang lalu, tahun depan, dan lain – lain.
2.      Keterangan tempat
Di sana, di rumah, di toko, dan lain – lain.
3.      Keterangan cara
Dengan cepat, sangat lambat, sangat serius, secara diam – diam.
4.      Keterangan alat
Menggunakan cangkul, dengan sepeda, mengendarai mobil, dan lain – lain.
5.      Keterangan tujuan
Supaya  pintar, agar naik kelas, dan lain – lain.

·         Pelengkap (Pel)
Pelengkap adalah unsur kalimat yang  melengkapi unsur – unsur lainnya, seperti subjek, maupun objek. Unsur ini berfungsi untuk menambahkan arti atau keterangan. Contoh :

1.      Pelengkap objek  
Saya membeli buku yang baru terbit di toko buku
2.      Pelengkap subjek
Gadis yang berambut pirang itu menemui aku di kelas pagi ini.
c.       Pola Kalimat
Unsur – unsur kalimat di atas tersusun sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing – masing dan membentuk suatu pola kalimat. Dalam bahasa Indonesia, ada 8 pola dasar kalimat yang bisa dikembangkan menjadi beberapa pola kalimat lainnya. Namun, kali ini kita hanya akan membahas kedelapan pola dasar ini terlebih dahulu. Berikut ini adalah pola – pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia.

1.      Kalimat Dasar Berpola S P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:
·         Aris  / sedang makan. = S / P (Kata Kerja)
·         Ibuku/ guru SMA. = S / P (Kata Benda)
·         Makanan itu/ lezat sekali.= S / P (Kata Sifat)

2.      Kalimat Dasar Berpola S P O
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
·         Kami  / sedang menyusun / jurnal ilmiah. = S /P / O
·         Budi/ menaiki/ sepeda. = S/P/O
·         Rafif /minum/ susu. = S/P/O

3.      Kalimat Dasar Berpola S P Pel
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva. Misalnya:
·         Risa/ beternak / ayam. = S / P / Pel.

4.      Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
·         ayah / mengirimi / saya / uang. = S / P / O / Pel.

5.      Kalimat Dasar Berpola S P K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
·         Paman  / berangkat / dari Tanjung Perak. = S / P / K

6.      Kalimat Dasar Berpola S P O K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
·         Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari. = S / P / O / K
·         Ani bertemu Budi di Stasiun Kereta Api. = S / P / O / K

7.      Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
·         Ungu / bermain / musik / di atas panggung. = S / P / Pel. / K

8.      Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
·         Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan. = S / P / O / Pel. / K

d.      Macam – macam kalimat
1.      Berdasarkan Pengucapan
Ø  Kalimat langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kaliamt yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.
Contoh:
Kakak berkata: “Reni, jangan meletakkan sepatu di sembarang tempat!”
“Saya gembira sekali”,kata ayah,”karena kamu lulus ujian”.
Ø  Kalimat tak langsung
Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan  orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita.
Contoh:
Ibu berkata bahwa dia senang sekali karena aku lulus ujian.
Kakak berkata bahwa buku itu harus segera dikembalikan.

2.      Berdasarkan jumlah frasa (Struktur Gramatikal)
Ø  Kalimat Tunggal
Kallimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola (klausa) yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Kalimat tunggal merupakan kalimat dasar sederhana. Kalimat-kalimat yang panjang dapat dikembalikan ke dalam kalimat-kalimat dasar yang sederhana dan dapat juga ditelusuri p0la-pola pembentukannya. Pola-pola kalimat dasar yang dimaksud adalah:
·         KB + KK (Kata Benda + Kata Kerja)
Contoh:   Victoria/ bernyanyi. S / P
·         KB + KS (Kata Benda + Kata Sifat)
Contoh:   Ika/ sangat/ rajin . S / P
Kalimat tunggal  dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
a.        Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
Contoh :  Saya siswa kelas VI.
b.      Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja.
Contoh :  Adik bernyanyi.
Ø  Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan baik kordinasi maupun subordinasi. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas  3 jenis, yaitu:

a.       Kalimat Majemuk Setara (KMS)
Kalimat ini terbentuk dari 2 atau lebih kalimat tunggal dan kedudukan tiap kalimat sederajat. Contoh :
Kami mencari bahan dan mereka meramunya.
b.      Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB)
Kalimat majemuk setara terdiri atas satu suku kaliamat bebas dan satu suku kalimat yang tidak bebas. Kedua kalimat tersebut memiliki pola hubungan yang tidak sederajat. Bagian yang memiliki kedudukan lebih penting (inti gagasan) disebut sebagai klausa utama (induk kalimat). Bagian yang lebih rendah kedudukakannya disebut dengan klausa sematan (anak kalimat). Contoh :
Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Induk kalimat: Para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Anak kalimat:  Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.
c.       Kalimat Majemuk Campuran (KMC)
Kalimat majemuk campuran terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat atau kebalikannya. Contoh :
Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang

3.      Berdasarkan Subjeknya
Dibagi menjadi 2  :
a.       Kalimat aktif
Kalimat aktif  adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja yang berawalan me- dan ber-. Predikat juga dapat berupa kata kerja aus (kata kerja yang  tidak dapat dilekati oleh awalan me–saja), misalnya  pergi, tidur, mandi, dll  (kecuali makan dan minum). Contoh:
Mereka akan berangkat besok pagi.
                              
b.      Kalimat pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di- dan ter- dan diikuti oleh kata depan oleh. Contoh :
Piring dicuci Eni
Daftar Pustaka
1.      http://elgrid.wordpress.com/2011/12/26/pengertian-kalimat-2/ minggu / 11 oktober 2015 – 20.15
2.      http://ridwanaz.com/umum/bahasa/pengertian-kalimat-definisi-kalimat/ minggu / 11 oktober 2015 – 21.00
5.      https://freezcha.wordpress.com/2010/05/08/jenis-jenis-kalimat/ selasa / 13 oktober 2015 – 06.25

DIKSI

Sabtu, 03 Oktober 2015



 PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS DIKSI
1.      Pengertian Diksi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi adalah pemilihan kat yang tepat dan selaras dalam penggunaanya sehingga dapat memberikan kesan dan makna  sesuai dengan harapan.
                  Fungsi dari diksi antara lain :
a.       Mudah dipahami.
Pemilihan diksi yang tepat dan selaras akan memudahkan pembaca atau pendengar lebih mudah dalam memahami arti kata atau makna kalimat atau gagasan yang hendak ingin disampaikan.  Pemilihan diksi dilakukan dengan memperhatikan situasi yang sedang berlangsung. Sehingga tidak terjadi kesalah pahaman terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
b.      Mendapatkan tujuan.
Dengan menggunakan diksi yang tepat, maka peluang untuk mendapatkan tujuan lebih besar. Hal ini karena komunikasi yang berlangsung sangat efektif selain itu pemilihan kata yang sesuai dengan suasana resmi ataupun tidak resmi akan menciptakan ekspresi tertentu yang dapat menyenangkan pendengar atau pembaca.

c.       Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
d.      Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

2.      Manfaaat Diksi
a.       Dapat membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif, bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
b.      Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri dan juga kata yang mengutip dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat

3.      Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu :
·         Fonem
·         Silabel
·         Konjungsi
·         Hubungan
·         kata benda
·         kata kerja
·         infleksi
·         uterans

Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam kalimat. Lebih dari itu, bisa saja menimbulkan dampak atau reaksi yang berbeda jika digunakan dalam kalimat yang berbeda. Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa diksi memegang tema penting sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan dengan mengharapkan efek agar sesuai.
Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1996: 24) yang menurunkan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut:
·         Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.
·         Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
·         Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.

4.      Jenis-jenis Diksi menurut Keraf, (1996: 89-108) adalah sebagai berikut:

a.      Denotasi
Makna denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus. Makna denotasi lazim disebut 1) makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) faktual dan objektif. 2) makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya). 3) makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan makna kias.
Contoh :
·         Adik makan nasi. ( makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut )
·         Harga kambing hitam itu sangat mahal. ( kambing hitam bermakna kambing yang memiliki warna hitam )
b.      Konotasi
Suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan,imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya.
Contoh makna konotasi:
·         Rumah itu luas sekali.
·         Banyak sekali orang yang menghadiri pertemuan itu.

c.       Kata abstrak
Kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata abstrak sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan pancaindera manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetapan, kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang bersifat teknis dan khusus.

d.      Kata konkrit
Kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau diindera secara langsung oleh satu atau lebih dari pancaindera. Katakata konkrit menunjuk kepada barang yang actual dan spesifik dalam pengalaman. Kata konkrit digunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup dalam pikiran pembaca melebihi kata-kata yang lain.
Contoh kata konkrit :
·         Meja              
·         Kursi
·         Rumah
·         mobil dsb.

e.       Kata umum
Kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas, kata-kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan.
Contoh kata umum: binatang, tumbuh-tumbuhan, penjahat, kendaraan.

f.       Kata khusus
Kata-kata yang mengacu kepada pengarahanpengarahan yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus.
Contoh kata khusus: Yamaha, nokia, kerapu, kakak tua,sedan.

g.      Kata ilmiah
Kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah.
Contoh kata ilmiah: analogi, formasi, konservatif, fragmen, kontemporer.

h.      Kata populer
Kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik oleh kaum terpelajar atau oleh orang kebanyakan.
                  Contoh kata popular: bukti, rasa kecewa, maju, gelandangan.

i.        Jargon
            Kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
Contoh jargon: sikon (situasi dan kondusi), pro dan kon (pro dan kontra), kep (kapten), dok (dokter), prof (professor).

j.        Kata slang
Kata-kata non standard yang informal, yang disusun secara khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam  percakapan, kata slang juga merupakan kata-kata yang tinggi atau murni.
Contoh kata slang: mana tahan, eh ketemu lagi, unyu-unyu, cabi.

k.      Kata asing
Unsur-unsur yang berasal dari bahasa asing yang masih dipertahankan bentuk aslinya karena belum menyatu dengan bahasa aslinya.
Contoh kata asing: computer, cyber, internet, go public.


l.        Kata serapan
Kata dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan wujud atau struktur bahasa Indonesia.
Contoh kata serapan: ekologi, ekosistem, motivasi, music, energi.

m.    Kata baku dan non-baku
Kata baku adalah sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa indonesia dalam penggunaannya. Suatu ragam penggunaan bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi.
Fungsi Bahasa Baku :
  1. Fungsi pemersatu, karena bahasa merupakan wahana dan pengungkap kebudayaan nasional.
  2. Fungsi Penanda kepribadian, indonesia membedakan dirinya dengan menggunakan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa.
  3. Fungsi Penambah wibawa, gengsi yang lekat pada bahasa Indonesia baku menambahkan wibawa pada setiap orang yang dapat menguasai bahasa dengan mahir.
  4. Fungsi Kerangka acuan, merupakan ukuran tentang tepat atau tak tepat pemakaian bahasa dalam situasi tertentu.
Kata takbaku adalah kata yang tidak sesuai dengan kaidah mengenai kata dalam bahasa indonesia. Dalam artikata, kata tak baku adalah kata tidak resmi. Suatu ragam penggunaan bahasa yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari aturan bahasa baku.  Dipakai dalam situasi tidak resmi.


KATA BAKU

KATA TAK BAKU
kemarin
kemaren
ijazah
ijasah
zaman
jaman

DAFTAR PUSTAKA:
1.      Amran, Tasai. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia. (Jakarta :CV Akademika Pressindo.
2.      Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia. 2006.
3.      Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengenmbangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.
4.      Rahaedi, Kunjana. 2003. Bahasa Indonesia perguruan tinggi. Erlangga. Jakarta
5.      http://teorikux.blogspot.co.id/2013/10/diksi-pilihan-kata.html , 04-10-2015 , Pukul : 12.00