Menentukan Kata/Istilah Tepat Sesuai Konteks

Kamis, 12 Mei 2016

Bacaaan atau ilustrasi biasanya disampaikan melalui kata-kata atau istilah dengan makna lugas. Akan tetapi, bacaan atau ilustrasi dapat juga disampaikan dengan kata-kata bermakna kias, misalnya dalam bentuk pribahasa.
Pribahasa terdiri atas ungkapan, idiom, atau frasa idiomatik, pepatah, perumpamaan, dan pemeo berupa kalimat beermakna kias. Ketiganya biasa disebut dengan peribahasa.
Ungkapan atau idiom adalah gabungan kata dengan makna khusus dan tidak dapat diterjemahkan secara harfiah kedalam bahasa dan situasi lain.
Contoh:
kedatangan kami disambut dengan sambutan hangat.
kata sambutan hangat merupakan ungkapan berarti 'meriah'.
Adapun peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat tetap susunannya, biasanya mengiaskan makna tertentu.
Contoh:
1. Bahasa menunjukkan bangsa, artinya budi bahasa (tutur kata dan kelakuan) seseorang menunjukkan sifat dan asal-usul keturunan seseorang. (peribahasa)
2. Berat saa dipikul, ringan sama dijinjing
artinya: pekerjaan berat atau ringan sebaiknya dikerjakan bersama-sama. (pepatah)
3. Seperti anak ayam kehilangan induknya,
Artinya: suatu kelompok yang tercerai-cerai karena ditinggalkan pemimpinnya. (perumpamaan)
4. Patah tumbuh hilang bergantu (pameo)

Menyimpulkan sebab akibat konflik dalam karya sastra

Masalah dalam cerita memunculkan konflik. Konflik merupakan pertemuan atau benturan antara dua kekuatan yang berlawanan. Masalah dibedakan menjadi dua macam, yaitu : masalah dari luar (fisik) dan dari dalam (batin).
Masalah dari luar terjadi antara tokoh dan sesuatu diluar dirinya. Masalah ini bisa terjadi dengan lingkungan ataupun manusia. Masalah dari luaar dibagi menjadi dua:
1. Masalah fisik merupakan masalah yang disebabkan benturan antara tokoh dan lingkungan. sebagai contoh konflik yang dialami tokoh akibat bencana alam.
2. Masalah sosial merupakan masalah yang muncul karena hubungan antar manusia. Miasalnuya: masalah pertiakian, perebutan, atau perceraian.
Masalah batin timbul dari dalam diri tokoh, masalah ini terjadi antara tokoh dan dirinya sendiri. Masalah merupakan salah satu unsur intrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam. Konflik dalam cerita disebabkan oleh suatu peristiwa sebagai pemicunya. Konflik dalam cerita juga menyebabkan terjadinya sebuah peristiwa. Sebab-akibat dalam karya sastra dapat dilihat dalam novel dan cerpen.

Mengidentifikasi Majas dalam Karya Sastra

Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang dalam mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam didalam jiwanya. Menurut Henry Guntur Tarigan, majas dapat dibagi menjadi empat bagian seperti berikut ini:
1. Majas Perbandingan.
a. Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup.
Contoh:
Baru tiga kilometer berjalan, mobilnya sudah batuk-batuk.
b. Metafora
Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.
Contoh:
Raja siang telah pergi keperaduannya.
c. Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yag lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti.
Contoh:
Kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya.
2. Majas Sindiran.
a. Ironi
Ironi adalah majas sindiran yang melukiskan sesuatu yang menyatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir orang.
b. Sinisme
Sinisme adalah majas sindiran yang menggunakan kata-kata sebaliknya seperti ironi, tetapi kasar.
Contoh:
Itukah yang dinamakan bekerja ?
c. Sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang terkasar atau langsung menusuk perasaan.
Contoh:
Otak mu memang otak udang.
3. Majas Penegasan
a. Pleonasme
Pleonasme adalah majas penegasan yang menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu dikataka lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan.
Contoh:
Salju putih sudah mulai turun ke bawah.
b. Repitisi
Repitisi adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata berkali-kali yang biasanya dipergunakan dalam pidato.
Contoh:
Kita junjung dia sebagai pemimpin. kita junjung dia sebagai pelindung, kita junjung dia sebagai pembebas kita.
4. Majas Pertentangan
a. Antitesis
Antitesis adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Cantik atau tidak, kaya atau miskin, bukan lah suatu ukuran nilai seorang wanita.
b. Paradoks
Paradoks adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal maksudnya tidak karena objeknya berlainan.
Contoh: Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai.

Mengomentari Isi Teks

Mengomentari isi teks.
Komentar atau tanggapan adalah sambutan terhadap peristiwa, masalah, ucapan, pendapat, atau gagasan yang berupa kritik atau komentar. Tanggapan dapat berupa pertanyaan setuju, tidak setuju, suka, tidak suka, atau menambahkan pendapat.
Tanggapan yang dikeluarkan harus bersifat objektif dan disertai alasan logis. Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan ketika mengemukakan tanggapan. Cara mengemukakan tanggapan sebagai berikut.
1. Tanggapan berhubungan atau sesuai dengan peristiwa, masalah, ucapan, pendapat, atau gagasan yang sedang dibicarakan.
2. Tanggapan dapat mempercepat pemahaman masalah, penemuan sebab, dan pemecahan masalah.
3. Tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan peserta lain.
4. Tanggapan disampaikan dengan kata dan kalimat tepat.
5. Tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan.

Membandingkan, Menunjukkan Bukti Simpulan Bahasa Dua Buah teks Nonsastra

Dua buah teks dapat memiliki kesamaan tema atau informasi. Membandingkan dan mencari kesamaan teks, dapat dilakukan dengan cara membaca kedua teks tersebut secara keseluruhan. Membaca teks tidak hanya dilakukan sekali saja, tetapi bisa juga dilakukan berulang-ulang agar dapat lebih mudah menentukan kesamaannya. Teks dapat dibandingkan melalui isi, pola penyajian, dan bahasanya.
Cara Mencari Perbedaan Penyajian Teks.
sebuah teks memuat informasi atau masalah. Penyajian informasi atau masalah. Penyajian informasi atau masalah dalam teks dapat berbeda. Perbedaan tersebut dapat diketahui dengan mengajukan pertanyaan berikut:
1. Apa, untuk menanyakan masalah, peristiwa, atau kejadian yang dibahas dalam teks.
2. Siapa, untuk menanyakan orang yang dibahas dalam teks.
3. Di mana, untuk menanyakan tempat peristiwa yang dibahas dalam teks.
4. Mengapa, untuk menanyakan sebab atau alasan, masalah, peristiwa, atau kejadian dalam teks.
5. Kapan, untuk menanyakan waktu peristiwa yang dibahas dalam teks.
6. Bagaimana, untuk menanyakan proses terjadinya masalah, peristiwa, atau kejadian dalam teks.

PUISI KONTEMPORER

Jumat, 22 April 2016

Puisi kontemporer adalah puisi yang wujudnya lennih mengutamakan permainan bunyi daripda arti. Puisi-puisi Sutarji Calzou Bachri merupakan puisi yang mewakili jenis puisi kontemporer. Sutarji menempatkan bentuk fisik dan bunyi dalam kedudukan terpenting.
Puisi jenis ini memiliki ke khasan dalam segi bentuk dan penggunaan diksinya. Puisi kontemporer sering disebut dengan puisi yang "lari" dari konvensional. Dalam hal ini, segi bentuk puisi ini pun senderung aneh . Penggunaan kata-katanya sering kali memakai ejekan, makian, atau sindiran.
SEPISAUPI
SEPISAU LUKA SEPISAU DURI
SEPIKUL DOSA SEPUKAU SEPI
SEPISAU DUKA SERISAU DIRI
SEPISAU DURI SEPISAU NYANYI
SEPISAU SEPISAUPI
SEPISAUPANYA SEPIKAUSEPI
SEPISAUPA SEPISAUPI
SEPIKUL DIRI KERANJANG DURI
SEPISAUPA SEPISAUPI
SEPISAUPA SEPISAUPI
SEPISAUPA SEPISAUPI
SAMPAI PISAU-NYA KEDALAM NYANYI

PUISI LAMA

1. CIRI-CIRI PUISI LAMA
a. Bersifat anonim, yaitu nama pengarang tidak dicantumkan dalam karya sastra
b. Merupakan milik bersama masyarakat.
c. Muncul karena adat dan kepercayaan masyarakat.
d. Bersifat istana sentris, maksudnya ceritanya pada lingkungan istana.
e. Dipublikasikan atau disebarkan secara lisan.
f. Menggunakan bahasa klise, yaitu bahasa yang bentuknya berikut/ meniru.
2. JENIS PUISI LAMA
Berdasarkan jenisnya, puisi lama dibedakan menjadi beberapa bagian : Pantun, Syair, Gurindam, Talibun, Seloka,Mantra, Karmina dan lain-lain.
a. Pantun
Pantun ialah puisi lama yanng terkait oleh syarat-syarat tertentu , seperti banyak baris, banyak suku kata , kata persajakan, dan isi. Secara tegas, ciri-ciri pantun sebagai berikut:
- terdiri dari 4 baris
- setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
- baris ke-1 dan 2 adalah sampiran dan baris ke-3 dan 4 adalah isi
- persajakan sampiran dan isi selalu paralel (ab-ab)
b. Syair
Syair berasal dari bahasa arab . Syair merupakan puisi lama yang terdiri dari 4 baris, berisi nasihat, dongeng atau cerita. Syair mengutamakan isi. Adapun ciri-ciri syair sebagai berikut:
1. Setiap bait terdiri atas 4 baris
2. Setiap baris terdiri dari 4-5 kata (8-12 suku kata).
3. Terdapar persamaan bunyi atau sajak akhir sama dan sempurna (aaaa).
4. Tidak ada sampiran sehingga keempatnya merupakan isi.
5. Terdiri atas bberapa bait dan setiap baitnya saling berhubungan.
6. Biasanya berisi cerita atau berita.
c. Gurindam
Gurindam merupakan salah satu jenis puisi lama Indonesia yang berasal dari Tamil (India). Kata Gurindam berasal dari bahasa Tamil "Kirandam" . Gurindam umumnya berisi nasihat, ajaran, atau semacam kata-kata mutiara. Gurindam terdiri atas dua larik dan bersajak a-a . Larik pertama gurindam berupa sebab atau perjanjian. Sebaliknya, larik kedua berupa jawaban atau akibat dari perjanjian larik pertama.