MEMBACA INTENSIF TEKS

Kamis, 02 Juni 2016

MEMBACA INTENSIF TEKS
Membaca intensif adalah teknik membaca dengan sungguh-sungguh, detail, urut dan rinci untuk memahami isi bacaan. Membaca intensif dapat digunakan untuk menemukan makna tersirat (tersembunyi) maupun tersurat (tertulis) dalam suatu bacaan.
Makna tersirat adalah makna yang tersembunyi yang terdapat dalam wacana. Makna itu tidak secara nyata tertulis dalam wacana, namun makna tersirat dapat diketahui manakala sudah membaca wacana tersebbut dengan tuntas. Makna tersirat ini tidak akan dijumpai pada kalimat-kalimat yang terdapat dalam wacana. Makna secara otomatis akan diketahui bila kita sudah membaca wacana itu dengan cermat.
Membaca intensif juga dapat dilakukan untuk menemukan ide pokok atau tema suatu bacaan. Membaca intensif berfungsi untuk mengetahui lebih banyak tentang bacaan, misalnya tentang penulisnya atau permasalahan yang dibicarakan mulai dari awal sampai akhir.

MENYIMPULKAN ISI BERITA

MENYIMPULKAN ISI BERITA
Berita dapat diartikan kabar, informasi atau laporan pers. Berita dapat disampaikan secara lisan ataupun tulisan. Berita yang disampaikan secara lisan dapat didapatkan melalui media televisi dan radio, sedangkan berita tertulis bisa didapat dari koran, majalah, buletin, dsb.
Menyimpulkan adalah mengambil inti dari suatu bacaan atau berita yang didengar.
Cara menyimpulkan berita :
a. Simaklah berita dengan sungguh-sungguh
b. Catatlah gagasan pokok dari berita
c. Simpulkan gagasan pokok di atas
Gagasan pokok dapat kita ketahui setelah kita mendapatkan jawaban dari unsur-unsur berikut ini :
* What (apa)
* When (kapan)
* Where (di mana)
* Who (siapa)
* Why (mengapa)
* How (bagaimana)
Unsur diatas di kenal dengan sebutan 5W + 1H

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN
Pengumuman adalah pemberitahuan yang ditujukan kepada khalayak ramai. pengumuman di pasang di tempat yang strategis atau di papan pengumuman. Dalam menuliskan pengumuman harus dengan menggunakan bahasa yang singkat, jelas dan mudah di pahami.
Contoh Pengumuman :
Pengumuman
Dalam rangka menyambut HUT RI Ke- 67 maka SDN 03 Kertijayan akan mengadakan berbagai kegiatan seperti :
Lomba kebersihan antar kelas
Lomba baca puisi antar kelas IV - Kelas VI dengan tema kepahlawanan
lomba menggambar antar kelas I - Kelas III
yang akan dilaksanakan pada :
hari, tanggal : Sabtu, 18 Agustus 2012
waktu : 07.30 - selesai
Demikian pengumuman ini disampaikan. atas perhatiannya di sampaikan terima kasih.

Fakta dan Opini

Jumat, 13 Mei 2016

FAKTA
Fakta merupakan sesuatu atau hal yang benar-benar terjadi. Semua orang akan mengatakan pernyataan yang sama terhadap sebuah fakta. Lawan dari fakta adalah pendapat (opini). Teks yang berisi fakta diidentifikasi memiliki dua sifat, yaitu fakta umum dan fakta khusus.
1. Fakta umum: kejadian/peristiwa/keadaan yang dapat ditemukan secara umum atau sudah laziim. Contoh:
a. Harimau hewan pemakan daging.
b. Burung elang adalah pemburu mangsa terhebat di udara.
2. Fakta khusus: Keadaan/ peristiwa yang dapat ditemukan secara khusus. Contoh:
a. Ibu dbelikan televisi baru oleh Ayah.
b. Kucing peliharaan adik suka makan kerupuk.
PENDAPAT
Pendapat (opini) merupakan gagasan, ide, atau pemikiran seseorang terhadap suatu peristiwa, hal, atau masalah. Pendapat seseorang terhadap suatu masalah, hal atau peristiwa dapat berbeda dengan pendapat oranglain.

Langkah-langkah Membuat Laporan Observasi

Untuk membuat teks laporan hasil observasi, dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
a. Menentukan Topik: Topik teks laporan observasi berkaitan dengan jenis objek yang akan diamati. Oleh karena itu, kita harus menentukan apakah objek yang akan diobservasi itu berupa benda, tempat, atau peristiwa. Kemudian menentukan aspek-aspek yang akan diteliti. Hal ini penting agar proses penelitian dan langkah penyusunan laporannya lebih terfokus.
b. Mengumpulkan Bahan: menentukan tujuan dan kegunaannya agar penelitian itu lebih terarah dan bermanfaat. Menentukan metode dan teknik penelitian, misalnya dengan observasi langsung, wawancara, atau angket. Melaksanakan penelitian berdasarkan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Mendokumentasikan hasil pengamatan dengan pencatatan, pemotretan, dan perekaman.
c. Menyusun Kerangka: Fakta-fakta yang ditemukan dapat disusun mengikuti pola kerangka kronologi dan spasial. Pola kronologi (urutan peristiwa) digunakan apabila objek yang diamati berupa peristiwa ataau kejadian. Fakta-fakta peristiwa disusun berdasarkan urutan kejadiannya. Pola spasial (urutan ruang) ini digunakan apabila objek yang diamati berupa benda, manusia, tempat, atau sejenisnya. Jadi, fakta-fakta yang ditemukan dapat disusun berdasarkan urutan ruang/tempat.
d. Mengembangkan Kerangka: Menyusun laporan dengan berdasarkan data yang diperoleh selama pengamatan. Hal yang dilaporkan tidak hanya data ataupun hasil analisisnya, melainkan pula tujuan, metode, penelitian, alat, atau instrumen yang digunakan, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan proses penelitian.
Memberi Judul: Langkah terakhir adalah memberi judul. Judul laporan harus sama dengan topiknya.

Menulis Judul Sesuai EyD

Karya tulis memuat tema dan judul. Tema karya tulis merupakan pokok pikiran yang dipakai penulis sebagai dasar mengarang. Judul digunakan sebagai "kepala" karangan. Judul karya ilmiah atau karya tulis ditulis dengan aturan sebagai berikut.
1. Semua huruf dalam judul ditulis dengan huruf kapital atau huruf pertama setiap kata dalam judul ditulis dengan huruf kapital. Akan tetapi, huruf pertama kata depan atau kata penghubung ditulis dengan huruf kecil, seperti dan, ke, dari, pada, dalam, terhadap, dengan, sebagai, atau, untuk.
2. Judul yang berupa kata ulang utuh ditulis dengan diawali huruf kapital.
3. Judul yang berupa kata ulang berimbuhan diawali dengan huruf kapital untuk kata pertama pada kata ulang. Kata keduanya tidak diawali dengan huruf kapital.

Menyunting Kata, Kalimat, dan Paragraf

Dalam sebuah paragraf terdapat penggunaan kata, konjungsi, kalimat.
1. Menyunting Kata
Kata harus disunting atau diperbaiki karena kata tersebut dianggap tidak baku jika tidak sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan yang Disempurnakan, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Dalam menyunting kata dalam paragraf, sebaiknya berpedoman pada tiga kaidah tersebut. Kata yang disunting dalam berupa kata tidak baku. Kata tidak baku penulisannya tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah-kaidah tersebut.
2. Menyuting konjunngsi
Konjungsi yang dianggap tidak tepat da harus disunting karena penggunaan konjungsi tidak sesuai dengan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Menyunting konjungsi dalam paragraf sebaiknya berpedoman pada kaidah yang berlaku. Penyuntingan konnjungsi memperhatikan makna dan maksud kalimat.
3. Menyunting Kalimat
Kalimat dianggap tidak tepat jika tidak efektif. Sebuah kalimat dianggap tidak efektif karena berbagai penyebab berikut.
a. Ketidaklengkapan Unsur Kalimat
Dalam kalimat minimal terdapat dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Jika unsur tersebut tidak aada dalam kalimat menjadi tidak efektif.
Contoh:
Sebagai tempat membaca, harus dilengkapi dengan fasilitas memadai.
Kalimat tersebut tidak efektif karena tidk menjelaskan sesuatu yang harus dilengkapi. Kalimat tersebut tidak menyertakan subjek kalimat. Suntingan kalimat tersebut adalah Sebagai tempat membaca, perpustakaan harus dilengkapi dengan fasilitas memadai.
b. Ketepatan Penempatan Unsur dalam Kalimat
Unsur-unsur dalam kalimat juga harus diletakkan ditempat yang tepat. Jika unsur-unsur tersebut diletakkan tidak pada tepatnya, kalimat akan menjadi tidak efektif.
Contoh:
Petani sebelum ada kebijakan impor gula dari Pemerintah, tidak pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Kalimat tersebut tidak efektif karena salah meletakkan kata petani. Kata petani seharusnya diletakkan dibelakang tanda koma. Suntingan kalimat tersebut adalah Sebelum ada kebijakan impor gula dari Pemerintah, petani tidak pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
c. Penggunaan Unsur Kalimat Secara Berlebihan
Ketidakefektifan kalimat juga dapat dilihat dari penggunaan unsur kalimat secara berlebihan. Unsur berlebihan tersebut dapat berupa penggunaan kata sama arti atau pemakaian kata tugas yang tidak perlu.
Contoh:
Para ibu0ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
Kalimat tersebut tidak efektif karena pemakaian kata para danibu-ibu yang keduanya menunjukkan kata jamak. Kata ibu tidak perlu diulang. Suntingan dari kalimat tersebut adalah Para ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih atau Ibu-ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih
d. Pilihan Kata Tidak Tepat
ketidakefisienan kalimat juaga dapat disebabkan oleh pilihan kata tidak tepat. Ketidakefisienan tersebut dapat dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari atau bahasa asing. Selain itu, ketidakpahaman terhadap arti sebuah kata menyebabkan penggunaan kata tersebut tidak tepat.
Contoh:
Kepada yang pernah ke gunung ini pasti akan merasakan betapa dingin udara disini.
Kalimat tersebut tidak efektif karena terdapat ketidakcocokan antar kata pernah dan akan. Kata pernah menunjukkan sudah dilakukan, sedangkan kata akan menunjukkan belum dilakukan. Seharusnya, kata akan diganti dengan sudah. Kata depan kepada juga sebaiknya dihilangkan. Suntingan dari kalimat tersebut adalah Mereka yang pernah ke gunung ini pasti sudah merasakan betapa dinginnya udara disini.
e. Tidak Logis
Kelogisan sebuah kalimat perlu diperhatikan. Kalimat tidak logis akan menjadi tidak efektif.
Contoh:
Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, selesailah karya tulis ini.
Kalimat tersebut tidak logis karena tidak mungkin hanya dengan mengucap syukur karya tulis dapat selesai.