Teks Negosiasi

Senin, 18 Juli 2016

Pengertian teks negosiasi
Negosiasi adalah suatu wujud interaksi sosial yang fungsinya guna mendapatkan penyelesaian bersama diantara pihak-pihak yang terlibat. Tujuannya untuk mengurangi atau bahkan kalai bahkan menghilangkan perbedaan, pertentangan antar pihak. Teks negosiasi berarti maknanya teks yang didalamnya mengandung unsur negosiasi.

Struktur teks negosiasi
Struktur teks negosiasi secara umum terbagi menjadi dua:
1.       Struktur minimal : terdiri dari : pembukaan, isi, dan penutup
2.       Struktur lengkap : orientasi, permintaan, pemenuhan, penawaran, persetujuan, pembelian, penutup

Ciri kebahasaan teks negosiasi
Ciri kebahasaan teks negosiasi antara lain:
1.       Menggunakan bahasa yang santun
2.       Terdapat ungkapan yang bersifat persuasif (mengajak, membujuk)
3.       Kadang kala ada juga bahasa yang bersifat memerintah, memaksa
4.       Adanya pasangan tuturan / partisipan

Contoh teks negosiasi
Suatu pagi, pak Agus pergi ke Pasar Dayeuhluhur guna membeli cangkul. Cangkul miliknya sudah tua dan ingin membeli yang baru. Selepas tiba di gerbang pasar ia melangkah menuju kios alat pertanian langganannya.
Pak Agus              : “Halo pak Johan, saya mau beli cangkul nih!”
Pak Johan            : “Mangga, ini yang bagus… ini yang biasa.”
Pak Agus              : “Yang bagus berapa harganya?”
Pak Johan            : “50.000an”
Pak Agus              : “Wah mahal sekali, 30 aja ya!”
Pak Johan            : “30? Nggak lah paling 45!
Pak Agus              : “40 aja ya?"
Pak Johan            : “Ya sudah, sini saya bungkus!”

Contoh negosiasi perwakilan karyawan dan pengusaha
Pengusaha          : “Langsung saja, saya keberatan atas aksi mogok yang kalian lakukan! Perusahaan bisa merugi kalau karyawan terus-terusan mogok begini”
Karyawan            : “Aksi yang kami lakukan bukan tanpa alasan pak!”
Pengusaha          : “Alasan apa?”
Karyawan            : “Kami meminta kenaikan upah pak! Hari ini harga kebutuhan pokok semakin meningkat, sementara penghasilan kami tetap!”
Pengusaha          : “Iya, saya mengerti, tapi kok harus mogok segala! Ini kan sama saja menghentikan produksi, sama artinya menghentikan penghasilan kita semua. Bisa bangkrut kita!”
Karyawan            : “Iya pak, sebetulnya kami sudah sampaikan permasalahan ini pada direktur bidang kehumasan, tapi beliau bilangnya nanti dan nanti. Sementara teman-teman sudah pada tidak sabar pak.”
Pengusaha          : “Oalah. Memangnya mau naik berapa?”
Karyawan            : “Kami minta kenaikan 15 persen dari upah saat ini pak”
Pengusaha          : “Wah sepertinya tidak bisa kalau segitu. Penghasilan perusahaan kita tak bisa membayar sebanyak itu. Paling naik 5 persen.”
Karyawan            : “Bagaimana kalau 10”
Pengusaha          : “Akan saya usulkan nanti pada dewan direksi”
Karyawan            : “Saya minta komitmennya pak!”
Pengusaha          : “Iya saya janji, minimal 7 persen, akan diusahakan goal. Nanti perwakilan kalian akan kami libatkan dalam rapat direksi.
Karyawan            : “Baik pak, terima kasih. Selamt siang.”
Pengusaha          : “Selamat siang”

website: http://pelajaranbahasaindonesia.com/2015/08/20/teks-negosiasi/

Jenis-Jenis Teks Cerita Sejarah

Secara umum teks cerita sejarah dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu:
  1. Cerita sejarah fiksi yaitu cerita sejarah yang tidak nyata. Jalan cerita pada teks sejarah fiksi disusun berdasarkan kisah dari dunia nyata dan disajian berdasarkan sudut pandang pribadi pengarangnya. Karakter tokoh yang terdapat pada cerita tidak digambakan sepenuhnya. Jenis-jenis cerita sejarah fiksi adalah:
  • Novel
  • Cerpen
  • Legenda

  1. Cerita sejarah non fiksi yaitu cerita sejarah yang benar-benar pernah terjadi atau nyata. Jenis-jenis cerita sejarah non fiksi adalah:
  • Biografi
  • Autobiografi
  • Cerita perjalanan
  • Catatan sejarah.
Teks cerita sejarah non fiksi harus berdasarkan bukti dan data-data yang objektif. Penggambaran tokoh di dalam cerita harus ditulis berdasarkan fakta dan data.

website: http://pelajaranbahasaindonesia.com/2015/12/08/pengertian-struktur-dan-ciri-teks-cerita-sejarah/

Pengertian, Struktur, dan Ciri Teks Cerita Sejara

 Teks cerita sejarah merupakan materi pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan di kelas 12 (XII) SMA / MA / SMK utamanya pada sekolah yang menyelenggarakan kurikulum 2013. Untuk lebih jelas mari kita simak uraian berikut.
Apa Sih yang Dimaksud dengan Teks Cerita Sejarah Itu?
A. Pengertian Teks Cerita Sejarah
Seperti namanya, yang dimaksud dengan teks cerita sejarah adalah sebuah teks yang isinya menjelaskan atau menceritakan suatu peristiwa atau kejadian masa lalu yang memiliki nilai sejara. Oleh sebab itu, cerita sejarah harus disampaikan berdasarkan fakta, kronologi waktu atau berdasarkan suatu peristiwa yang terjadi.

Bagaimana Sih Struktur dan Kaidah Bahasa Penulisan Cerita Sejarah?

B. Struktur Teks Cerita Sejarah
Struktur penulisan cerita sejarah terdiri dari tiga poin, yaitu:
  1. Pendahuluan, yaitu bagian awal yang menjadi pembuka pembahasan yang menjelaskan secara singkat suatu peristiwa atau kejadian yang akan diceritakan.
  2. Ramalan peristiwa, yaitu bagian isi pokok teks yang menjelaskan peristiwa atau kejadian secara rinci atau secara kronologis.
  3. Penutup, yaitu bagian akhir teks bisa berupa kesimpulan atau komentar pribadi.

C. Ciri / Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah
Sedangkan ciri kebahasaaan atau kaidah bahasa penulisan yang umumnya muncul dalam teks sejarah adalah:
  1. Menggunakan peristiwa yang telah terjadi atau peristiwa masa lalu. Contohnya: peristiwa yang terjadi pada tahun 1945.
  2. Mengurutkan peristiwa dengan menggunakan kunjungsi. Contohnya: penggunaan kata seperti: dan, tetapi, setelah itu, kemudian, lalu dsb,
  3. Mengungkapkan cara dan waktu dengan menggunakan keterangan dan frasa adverbial. Contohnya : kemarin.
  4. Menggunakan kata kerja untuk menyatakan suatu tindakan. Contohnya: tidur, pergi, makan
website: http://pelajaranbahasaindonesia.com/2015/12/08/pengertian-struktur-dan-ciri-teks-cerita-sejarah/

Penulisan Kalimat yang Tidak Utuh

Yang tergolong ke dalam jenis kesalahan seperti ini adalah kalimat yang menghilangkan salah satu atau beberapa bagian kalimat yang kehadirannya wajib atau menentukan kelengkapan kalimat itu.
Contoh :
(1)        Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2)        Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap.
(3)        Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.

Ketidakbenaran kalimat (1) adalah bahwa kalimat itu tidak menampilkan apa atau siapa yang menghasilakan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama. Bagian itu dalam kalimat (1) dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.
Dalam kalimat (2) kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan perbuatan apa atau dalam keadaan apa yang dilakukan atau dialami oleh kegagalan proyek itu sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi. Lebih-lebih lagi, dalam kalimat (3) ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan siapa yang berbuat dan jenis perbuatan apa yang dilakukannya yang diterangkan oleh tenun ikat yang khas Timor Timur itu.
Jika kalimat (1), (2), dan (3) kita betulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimat-kalimat itu kita ubah menjadi
(1)        Dalam musyawarah itu mereka menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2)        Kegagalan proyek itu terjadi karena perancangan yang tidak mantap.
(3)        Tenun ikat yang dipakai oleh Raja Los Palos tergolong ke dalam tenun ikat yang khas, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.
Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambahkan bagian lain ke dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk menghasilkan menjadi dihasilkan sehingga kalimat itu menjadi

Dalam musyawarah itu dihasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.

Atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata dalam sehingga kalimat menjadi
Musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.

webstite: https://hyakimarufaris.wordpress.com/ringkasan-materi-bahasa-indonesia/

Pengertian Kalimat

Orang berbahasa tidak menggunakan kata-kata secara lepas, tetapi dengan merangkaikannya menjadi bentukuntaian kata yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Untaian kata yang mengungkapkan pikiran secara utuh itu disebut kalimat. Dalam sebuah karangan tertulis atau surat, kalimat itu merupakan bagian terkecil sebagai unsur pembentuknya. Paling tidak, kalimat itu merupakan titik tolah ataubagian awal sebuah karangan. Agar dapat dipahami lebih jelas mengenai kalimat itu, perhatikanlah contoh petikan karangan beriktu ini.
Ujian telah lama berakhir. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali. Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya.
Pada contoh di atas, kita dapat menemukan lima buahkalimat yang membangun bagian karangan itu, yaitu
(1) Ujian telah lama berakhir.
(2) Bahkan, sudah diumumkan hasilnya.
(3) Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali.
(4) Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga.
(5) Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya

Kalimat sebagai unsur dasar pembentuk karangan dalam wujud tulisan mempunyai ciri-ciri berikut :
  1. Kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau mungkin juga dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!).
  2. Di tengahnya dipakai spasi san tand baca seperti koma (,), titik dua (:), titik koma (;), tanda hubung (-).
Contoh kalimat (1) sampai dengan (5) adalah kalimat yang utuh. Untuk mengetahui keutuhan sebuah kalimat, kita dapat mengamati contoh kalimat (1) Ujian telah lama berakhir. Misalnya. Kata Ujian dan berakhir dalam kalimat itu merupakan kata-kata yang diperlukan. Jika salah satu di antaranya kita hilangkan sehingga kalimat itu menjadi (a) Ujian telah lama atau (b) telah lama berakhir, pernyataan (a) dan (b) merupakan bentuk pengungkapan pikiran yang tidak utuh lagi. Dengan perkataan lain, bentuk pengungkapan pikiran itu merupakan kalimat yang tidak benar.
Kebenaran sebuah kalimat, selain ditentukan oleh keutuhan unsur-unsur pikiran, ditentukan juga oleh
  1. Kelugasan penyusunannya (tidak rancu);
  2. Urutan kata-katanya;
  3. Ketepatan pemakaian kata-kata penghubungnya atau perangkainya;
  4. Kecermatan memilih kata-katanya;
  5. Kebenaran menggunakan bentuk kata-katanya.
Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahan kalimat yang disebabkan ileh (1) penulisan kalimat yang tidak utuh, (2) pemakaian bentuk kata yang rancu, (3) pemakaian keterangan yang tidak lengkap, (4) urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia, (5) pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan (6) pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.

website:  https://hyakimarufaris.wordpress.com/ringkasan-materi-bahasa-indonesia/

Sastra "Melayu Lama"

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya", Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya
sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra "Melayu Lama"

•Robinson Crusoe (terjemahan)
•Lawan-lawan Merah
•Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
•Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
•Kapten Flamberger (terjemahan)
•Rocambole (terjemahan)
•Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
•Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
•Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
•Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
•Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
•Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
•Cerita Nyi Paina
•Cerita Nyai Sarikem
•Cerita Nyonya Kong Hong Nio
•Nona Leonie
•Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
•Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
•Cerita Rossina
•Nyai Isah oleh F. Wiggers
•Drama Raden Bei Surioretno
•Syair Java Bank Dirampok
•Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
•Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
•Tambahsia
•Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
•Nyai Permana
•Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
•dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

website: http://bahasaindosugik.blogspot.co.id/2010/10/materi-bahasa-indonesia-kelas-xii-smama.html

Menulis Kritik dan Esai

Pernahkah kamu membaca kritik dan esai yang disampaikan seseorang melalui media cetak? Apakah bedanya dengan resensi? Diskusikanlah dengan temanmu untuk memahami tiga istilah, yakni resensi, kritik, dan esai! Pada semester 1, kamu telah membaca beberapa resensi buku Nonfiksi dan resensi kumpulan cerpen. Bahkan, kamu pun telah berlatih membuat resensi. Sekarang kamu akan mempelajari kritik dan esai.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997 : 531 ), disebutkan kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya (Depdikbud, 1997: 270 ). Berdasarkan pengertian di atas, kritik dan esai merupakan sebuah karangan yang berisi ulasan dan pembahasan tentang suatu masalah dari sudut pandang seseorang.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun kritik dan esai, di antaranya sebagai berikut.

1. Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas dan hasil ulasannya harus memberikan keteorangan atau memperlihatkan sebab musabab yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang nyata. Jadi yang terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya.

2. Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual atau imajinatif? Pendekatan faktual maksudnya mendekati pokok persoalan berdasarkan fakta dan datanya sebagaimana diserap pancaindra. Pendekatan imajinatif maksudnya mendekati pokok persoalan berdasarkan apa yang dibayangkan atau diangankan.

3. Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukungoleh fakta yang nyata dan objektif. Penulis tidak bleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.

website: http://bahasaindosugik.blogspot.co.id/2010/10/materi-bahasa-indonesia-kelas-xii-smama.html